KARTASURA – Guru-guru SMK Muhammadiyah Kartasura mengikuti pendampingan penulisan esai dan best practice yang diselenggarakan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) P2M Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di sekolah tersebut, Rabu (23/9/2026). Melalui kegiatan ini, para guru belajar mengolah pengalaman mengajar, inovasi pembelajaran, dan praktik baik yang selama ini mereka jalankan menjadi tulisan yang sistematis dan berpotensi dimuat di media massa.
Pendampingan tersebut diketuai Dr. Main Sufanti, M.Hum. Anggota tim UMS yang mendampingi adalah Umi Fadliah, Ph.D.; Dr. Dini Restiyanti Pratiwi, M.Pd.; Nuraini Fatimah, S.Pd., M.Pd.; Eko Purnomo, S.Pd., M.Pd.; Titan Sukma Nurserin; Nanda Dwi Setyaningrum; Ajeng Widiyastuti; Suci Kurniasari; Presillia Agustina; Muhammad Afrizal; Hasan Alvan Rifai; Muhammad Surya Fadlilah; Shandy Yusril Fadlullah; dan Dania Revalina Putri.
Dalam kegiatan itu, Main Sufanti menyampaikan bahwa pengalaman guru dalam mengajar berpotensi besar dikembangkan menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Menurutnya, banyak praktik bernilai yang dimiliki guru belum terdokumentasi dalam bentuk tulisan.
“Guru setiap hari memiliki pengalaman yang sangat kaya dalam melaksanakan pembelajaran. Pengalaman tersebut sebenarnya merupakan sumber pengetahuan yang berharga. Melalui kegiatan pendampingan ini, kami dari UMS ingin membantu guru mengidentifikasi pengalaman terbaiknya, mengolahnya secara sistematis, kemudian menuangkannya menjadi karya best practice atau esai yang dapat dibaca dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Main Sufanti.
Ia menambahkan, kemampuan menulis perlu menjadi bagian dari pengembangan profesional guru. Tulisan dapat menjadi sarana merefleksikan praktik pembelajaran sekaligus berbagi inovasi dengan sesama pendidik.
“Kami berharap guru tidak hanya menjadi pengguna pengetahuan, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan. Ketika pengalaman pembelajaran ditulis dengan baik, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi guru lain. Karena itu, budaya menulis perlu terus dibangun di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Para guru menerima materi penulisan untuk media massa, terutama best practice, esai, dan berita. Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diarahkan mengidentifikasi pengalaman nyata yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.
“Best practice dapat menjadi sarana bagi guru untuk berbagi pengalaman terbaik dalam pembelajaran. Esai dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan terhadap suatu isu, sedangkan berita digunakan untuk menyampaikan informasi faktual mengenai suatu peristiwa,” jelas Main Sufanti.
Tim UMS juga menguraikan struktur masing-masing jenis tulisan. Best practice terdiri atas latar belakang, masalah, solusi, pelaksanaan, hasil, dan simpulan. Esai disusun dari pendahuluan, pembahasan, hasil atau argumentasi, dan penutup. Adapun berita mencakup judul, kepala berita, tubuh berita, dan ekor berita. Setelah melihat contoh konkret best practice dan esai, para guru diajak mengidentifikasi pengalaman pembelajaran yang pernah dilakukan dan menentukan jenis tulisan yang sesuai untuk dikembangkan.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari para guru. Salah satunya Sadiyah, yang menilai pendampingan tersebut memberi pengalaman baru dalam memahami potensi tulisan yang sebenarnya sudah dimiliki guru dari aktivitas pembelajaran sehari-hari.
“Pelatihan dari UMS ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai guru. Selama ini sebenarnya banyak pengalaman dan kegiatan pembelajaran yang sudah kami lakukan, tetapi belum semuanya terdokumentasi dalam bentuk tulisan. Setelah mendapatkan pendampingan dari Tim UMS, kami menjadi lebih memahami bagaimana pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi best practice maupun esai,” ungkap Sadiyah.
Menurut Sadiyah, pendampingan itu juga membuat guru lebih percaya diri untuk mulai menulis. Guru tidak harus menunggu memiliki pengalaman besar untuk menghasilkan karya, tetapi dapat memulai dari praktik pembelajaran sehari-hari.
“Kami menjadi lebih termotivasi untuk mulai menulis dari pengalaman yang ada di sekolah. Pendampingan dari UMS membuat kami memahami bahwa pengalaman sederhana dalam pembelajaran pun dapat menjadi bahan tulisan yang bermanfaat apabila disusun secara sistematis,” tambahnya.
Antusiasme guru juga tampak dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul menyangkut rentang waktu pengalaman yang dapat dijadikan bahan penulisan best practice. Hal ini menunjukkan keinginan para guru untuk memahami lebih jauh cara mengolah pengalaman profesional menjadi karya yang bernilai akademik dan layak dipublikasikan.
Selain teknik menulis konvensional, para guru diperkenalkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Teknologi ini dapat dipakai untuk menemukan ide, membuat alternatif judul, menyusun kerangka, memperbaiki kalimat, serta memeriksa ejaan dan tanda baca.
Main Sufanti menegaskan, penggunaan AI harus tetap disertai tanggung jawab akademik. Menurutnya, AI dapat membantu aspek teknis, tetapi tidak menggantikan pengalaman dan pemikiran guru.
“AI kita tempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti penulis. Pengalaman, data, analisis, dan simpulan harus tetap berasal dari guru. Justru dengan memanfaatkan AI secara bijak, guru dapat lebih fokus pada gagasan dan pengalaman yang ingin disampaikan, sementara aspek teknis penulisan dapat dibantu oleh teknologi,” tegasnya. Melalui pendampingan ini, UMS berupaya memperkuat budaya literasi produktif di kalangan guru, yakni tidak hanya mengajar, tetapi juga mendokumentasikan praktik baik, inovasi, dan pengalaman profesional dalam bentuk tulisan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi guru SMK Muhammadiyah Kartasura untuk menghasilkan best practice, esai, maupun berita yang dapat dipublikasikan di media massa, serta memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru.

